sponsor by Koncoffee Bali

WAJIB UNTUK DI BACA

Bagi anda, Bapak/Ibu dan Saudara/i, saya mengharapkan untuk merespon minimal dengan cara meninggalkan pesan di icon BUKU TAMU dekat scrool sebelah kanan, atau mengisi coment di bagian bawah postingan saat anda hanya sekedar membaca blog ini, atau mencopy informasi dari blog ini, sebagai suatu apresiasi untuk blog ini. Anda juga dapat chat dengan saya langsung seputar psikologi saat saya sedang online pada room chat yang tersedia, dan saya akan berusaha membantu anda.

- SELAMAT MEMBACA-

Minggu, 27 Mei 2012

Advertise on P.C

Welcome, and thank you very much for your interest in advertising on Psikologi Cocaina. We offer unique, high-quality, constantly updated content. Psikologi Cocaina has become one of most popular psychology sains sites on the Net. We present advertisers with an effective media tool to reach audiences who actively participate with our content - they seek information and generally stay longer and come back more often than the normal Web user. We will let you make a bid for the price to plug advertise on this blog.


Advertise that we offer are:

• Link Exchanges is Free

• Huge Banner on top of my Site for minimum 30 days.
• Banner (125 x 125 ) on Footer of my Site for minimum 30 days.
• Review site written by you or us for minimum 30 days.



For advertising information and inquiries please contact:

Yusak Kathi
Yoesackh@yahoo.com

Sabtu, 26 Mei 2012

MEMODIFIKASI PERILAKU PSIKOLOGI

MENGHILANGKAN PERILAKU MEROKOK DENGAN MODIFIKASI PERILAKU DALAM PSIKOLOGI

Oleh : Yusak Kathi

A.    Tujuan
Perubahan perilaku ini dilakukan agar individu yang semula adalah perokok aktif  yang kurang lebih selalu menghisap sebanyak 3 bungkus rokok per hari yang disebabkan banyaknya waktu luang, kebiasaan merokok sehabis makan, sedang berkumpul bersama teman-teman perokok  dan menjadikanya sebagai pelampiasan saat sedang bad mood/cemas dan sebagainya, sehingga  perilaku merokok itu  dapat dikurangi bahkan dihilangkan sama sekali.
B.     Daftar perilaku yang sebaliknya dilakukan
1.      Berolahraga secara teratur
2.      Selalu membawa permen di kantong
3.      Hindari waktu luang yang berlebihan
4.      Membawa uang tidak berlebihan
5.      Mengindari segala hal-hal yang dianggap sumber kecemasan
6.      Apabila ingin berkumpul bersama teman, harus menghindari sejenak saat teman-teman masih merokok.
C.    Aturan Main untuk melakukan perilaku-perilaku diatas
1.      Bangun pagi untuk berolahraga kurang lebih 60 menit
2.      Membawa permen sebagai penganti rokok
3.      Menggunakan waktu luang yang berlebihan dengan cara mengerjakan sesuatu atau di pakai istirahat ( tidur)
4.      Pada saat keluar dari rumah atau kost membawa uang secukupnya
5.      Buat komitmen dan janji tentang rencana perilaku yang ditetapkan kepada diri sendiri dan teman terdekat kita sebagai saksi.
6.      Tempelkan daftar perilaku, komitmen dan janji yang kita tulis itu pada dindidng kamar sehingga kita tidak lupa.
D.    Desain program
Dalam pelaksanaanya perilaku-perilaku diatas harus dilakukan secara terus menerus sampai perilaku yang ingin di bentuk itu muncul, hal yang perlu di perhatikan untuk mendukung jalannya program tersebut adalah dengan membuat kontrak perilaku dengan orang terdekat. meminta teman atau orang terdekat untuk menegur, mengenakan sanksi berupa uang bahkan memberi label individu tersebut sebagai pembohong atau tidak konsistern terhadap ucapannya sesuai yang ada pada kontrak perilaku, apabila individu tersebut memunculkan perilaku yang ingin di hilangkan. Hal lain yang dapat juga dilakukan adalah berkata kepada diri sendiri bahwa rokok hanyalah membakar uang, membuat jantungan, asma dan mendekatkan diri kepada kematian atau apa saja yang mampu memberi gambaran tentang rokok menjadi semakin buruk dan membuat persepsi anda terhadap rokok pun negatif .
      Hal-hal tersebut diatas dilakukan untuk mensugesti diri agar tidak memunculkan kembali perilaku yang ingin di hilangkan, serta dapat juga sebagai motivasi apabila semangat untuk merubah perilaku yang sebelumnya anda miliki mulai hilang.

E.     Akhir dari program
Program ini diharapkan dapat mengatur aktivitas individu sehari-hari untuk tidak merokok, dengan cara menghindari segala faktor-faktor yang bisa membuat perilaku merokok tersebut muncul. Program tersebut juga dapat dikatakan berakhir apabila perilaku baru yang ingin dibentuk itu telah menjadi suatu kebiasaan, sehingga individu melakukannya sesuai dengan kesadaran diri yang penuh tanpa paksaan dan tekanan dari pihak manapun, sehingga perilaku merokok individu bisa berkurang dan bahkan hilang sama sekali. Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Tuhan memberkati.


Rabu, 04 April 2012

Rekognisi Pola dalam Psikologi Kognitif

Pola dalam hal ini merujuk pada pengertian suatu komposisi stimulus penginderaan yang kompleks yang dapat dikenali oleh manusia sebagai pengamat sebagai suatu kelompok objek. Rekognisi pola merupakan proses pengenalan kembali terhadap pola yang pernah dikenal. Oleh karena itu, jika kita melihat wajah teman kita atau mendengar lagu Iwan Fals, kita dapat mengenal masing-masing persepsi tersebut sebagai sesuatu yang sebelumnya telah dialami.
Bila dilihat dari jenis prosesnya, pemrosesan informasi memiliki dua jenis pemrosesan, yaitu data driven & conceptually driven . Pemrosesan data driven dimulai dengan datangnya data penginderaan. Sedangkan dalam conceptually driven pemrosesan informasi dimulai dengan pembentukan konsep atau harapan individu tentang informasi yang mungkin dijumpainya.
Rekognisi pola melibatkan baik pemrosesan data dengan data driven (informasi diterima oleh indera) maupun conceptually driven (pengetahuan yang disimpan di memori). Rekognisi pola (pattern recognition) merupakan proses yang menjembatani antara proses deteksi sinyal penginderaan yang sederhana (yang cenderung data driven ) dengan persepsi terhadap pola_pola yang kompleks (yang cenderung conceptually driven ).
Kemampuan untuk mengenal pola dari informasi penginderaan merupakan ciri khas yang spektakuler pada manusia dan binatang. Kemampuan ini memungkinkan kita untuk mengenal teman lama diantara lautan manusia. Kita juga bisa mengenal suatu lagu hanya dengan mendengar beberapa not dari lagu tersebut. Dengan mata terpejam pun kita bisa menebak dengan benar bunga melati dari aroma yang kita cium. Pembahasan mengenai pengenalan pola pada bab ini lebih banyak difokuskan pada pengenalan pola visual.

PENDEKATAN - PENDEKATAN dalam PENGENALAN POLA VISUAL
Terdapat beberapa pendekatan untuk menjelaskan bagaimana proses rekognisi pola visual, antara lain pendekatan psikologi gestalt, canonic perspectives, pemrosesan bottom-up/top-down, template matching, feature analysis dan prototype matching.
�� G E S T A L T P S Y C H O L O G Y
Pengenalan pola didasarkan atas persepsi terhadap keseluruhan pola stimulus. Beberapa stimulus akan dipersepsikan dengan cara yang sama oleh sebagian besar orang. Sebagai contoh, jika ditunjukkan stimulus berikut :
[  ]
Sebagian besar orang akan mengenali dan menyebutkannya sebagai segi empat.
Cara kita mengorganisasikan dan mengklasifikasikan stimulus visual telah dipelajari oleh psikolog Gestalt pada awal abad 20. Pengenalan pola menurut mereka melibatkan keseluruhan stimulus yang bekerja bersama menghasilkan suatu kesan yang lebih dari sekedar totalitas penjumlahan dari penginderaan terhadap bagian-bagiannya.
Menurut Wertheimer (1923), beberapa pola stimulus cenderung diorganisasikan secara alami (spontan). Sebagai contoh, kesan anda terhadap gambar berikut cenderung adalah seri delapan buah titik.
• • • • • • • •
Jika titik-titik tersebut membentuk pola sebagai berikut :
••  ••  ••  ••
Anda cenderung melihatnya sebagai empat set pola dua titik.
Apabila titik-titik disusun sebagai berikut :
• • •                • • •            •
•   •               •       •        • • •
• • •                • • •         • • • •
Anda akan cenderung melihatnya sebagai segi empat, segi enam dan segi tiga.
Tokoh psikologi Gestalt, khususnya Kohler memiliki asumsi : organisasi spontan terhadap pola merupakan fungsi dari stimulus sendiri dan hanya sedikit berkaitan dengan pengalaman subjek sebelumnya. Namun berdasarkan riset-riset (beberapa riset merupakan penelitian lintas budaya), nampaknya “pengorganisasian alami” terhadap pola lebih berhubungan dengan sejarah persepsi (pengalaman) subjek.
Penekanan psikolog kognitif dalam mempelajari rekognisi pola lebih pada struktur dan proses
internal yang berkaitan dengan rekognisi pola yang kompleks, tidak seperti studi gestalt mula-mula
yang menekankan karakteristik stimulus sederhana.

�� P E R S P E K T I F C A N O N I C
Perspektif canonic merupakan perluasan ide dari para ahli Gestalt. Perspektif canonic merupakan pandangan-pandangan yang paling baik dalam merepresentasikan suatu objek atau image-image yang datang pertama kali di dalam pikiran ketika kita mengingat kembali suatu bentuk.
Salah satu penjelasan teoritis yang umum untuk pendekatan canonic adalah bahwa melalui
pengalaman umum dengan berbagai objek, kita mengembangkan ingatan-ingatan yang permanen atas pandangan-pandangan yang paling mewakili (representasional) dan suatu sudut pandang yang mendekati jumlah informasi maksimal dari suatu objek. Kajian atas Perspektif canonic menjelaskan kepada kita tentang perspektif bentuk, namun sekaligus juga memberikan informasi yang lebih banyak tentang pemrosesan informasi pada manusia, pembentukan prototype (tipikalitas objek-objek yang direpresentasikan dalam memori) dan ekonomi pikiran.
Sebuah data eksperimen mendukung gagasan di atas, yaitu eksperimen dari Palmer, Rosch & Chase (1981). Mereka melakukan pemotretan suatu seri objek-objek yang umum dari berbagai sudut. Subjek diminta menentukan foto yang mana yang paling tipikal atau paling familiar.
Langkah selanjutnya (eksperimen bagian kedua), kepada subjek dipertontonkan (satu persatu) foto-foto kuda dan objek-objek yang lain dan diminta untuk menyebutkan nama objek tersebut secepat mungkin. Seperti dugaan, foto dari Perspektif canonic dikenali paling cepat (waktu reaksi paling kecil). Reaksi waktu (terhadap foto-foto lain) semakin bertambah (lebih lama) sesuai dengan fungsi jarak penilaian dari canonicality.
Penjelasan atas hasil eksperimen tersebut adalah :
(1) Lebih sedikit bagian dari objek yang tidak dapat dilihat.
(2) Sudut pandang canonic merupakan sudut pandang yang paling sering kita lihat.
(3) Sudut pandang canonic merupakan sudut pandang yang paling ideal atau paling baik.

�� P E M R O S E S A N B O T T O M - U P VS T O P - D O W N
Bagaimana kita mengenali suatu pola ? Persoalannya, apakah kita mengawalinya dengan pengenalan bagian-bagian yang selanjutnya menjadi dasar pengenalan terhadap keseluruhan (bottomup ), ataukah diawali dengan hipotesis terhadap keseluruhan dan selanjutnya menjadi dasar untuk mengidentifikasi dan merekognisi bagian-bagiannya (top-down). Contoh :
�� Bottom-up : Mengidentifikasi anjing karena kita telah mengenal kembali bulunya, keempat
kakinya, matanya, kupingnya, dll.
�� Top-down : Mengenal kembali bulu anjing, mata anjing, kuping anjing, kaki anjing karena kita
telah mengidentifikasi anjing.
Beberapa teoris (seperti Palmer 1975) berpendapat bahwa dalam berbagai situasi, interpretasi terhadap bagian-bagian dan keseluruhan berlangsung secara simultan (bersama-sama) baik top-down maupun bottom-up . Pengenalan kembali (rekognisi) terhadap objek dipengaruhi oleh harapan subjek yang ditentukan oleh konteks. Hal ini nampak dari hasil eksperimen.
Ø   Eksperimen dari Palmer (1975) menunjukkan bahwa pengenalan bagian-bagian wajah lebih mudah
dilakukan ketika dalam konteks (bentuk kepala) dari pada ketika tanpa konteks (tanpa “bingkai”
bentuk kepala).
Ø  Eksperimen Biederman dkk. (1972) menunjukkan bahwa ketika subjek diminta untuk mencari objek dalam dunia nyata (contoh mencari objek dalam kampus atau objek di jalan raya, pengenalan, ketepatan dan waktu yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi objek berhubungan dengan ketepatan penempatan objek.
Kita mengharapkan untuk melihat objek-objek tertentu dalam konteksnya (contoh: stetoskop diruangan dokter, kompor didapur). “Pengetahuan terhadap dunia” memfasilitasi pengenalan terhadap objek pada konteks yang familiar dan menghambat kita untuk mengidentifikasi pada konteks yang tidak cocok.
�� T E M P L A T E  M A T C H I N G
Template matching merupakan salah satu ide yang digunakan untuk menjelaskan bagaimanaotak kita mengenali kembali bentuk-bentuk atau pola-pola.
Template dalam konteks rekognisi pola menunjuk pada konstruk internal yang jika cocok (match ) dengan stimulus penginderaan mengantar pada rekognisi suatu objek. Atau pengenalan pola terjadi jika terjadi kesesuaian antara stimulus indera dengan bentuk mental internal.
Gagasan ini mendukung bahwa sejumlah besar template telah tercipta melalui pengalaman hidup
kita. Tiap-tiap template berhubungan dengan suatu makna tertentu.
Contoh proses identifikasi bentuk geometri :
Energi cahaya yang terpancar dari suatu bentuk mengena pada retina mata dan diubah menjadi energi neural yang kemudian dikirim ke otak. Selanjutnya terjadi pencarian di antara templatetemplate yang ada. Jika sebuah template ditemukan sesuai (match ) dengan pola tadi, maka subjek dapat mengenal bentuk tersebut. Setelah kecocokan antara objek dan template terjadi, proses lebih lanjut dan interpretasi terhadap objek bisa terjadi.
Teori Template matching memiliki keunggulan dan kelemahan, yaitu :
Ø  Kunggulan  :
(1) Jelas bahwa untuk mengenal bentuk, huruf atau bentuk-bentuk visual lainnya diperlukan kontak dengan bentuk-bentuk internal.
(2) Template matching adalah prosedur pengenalan pola yang sederhana yang didasarkan pada ketepatan konfigurasi informasi penginderaan dengan “konfigurasi” pada otak. (Contohnya : barcode)
Ø  Kelemahan :
Jika perbandingan eksternal objek dgn internal objek 1:1, maka objek yang berbeda sedikit saja dengan template tidak akan dikenali. Oleh karena itu, jutaan template yang spesifik perlu dibuat agar cocok dengan berbagai bentuk geometri yang kita lihat dan kenal. Jika memang penyimpanan memori di otak seperti ini, otak tentu seharusnya sangat kewalahan dan pencarian informasi akan memakan waktu, padahal pada kenyataannya tidak demikian.
�� F E A T U R E  A N A L Y S I S
Ini merupakan pendekatan lain yang menjelaskan bagaimana kita menyarikan informasi dari stimulus yang kompleks. Teori ini mendukung pernyataan bahwa persepsi pola merupakan pemrosesan informasi tahap lanjut (higher order) yang didahului oleh langkah datangnya stimulus kompleks yang
diidentifikasi berdasarkan tampang-tampang sederhananya. Dengan demikian, menurut pendekatan ini, sebelum suatu informasi visual dimengerti secara penuh, terlebih dahulu komponen-komponenya dianalisa secara minimal.
Contoh :
“P A N A H”, bukan diterjemahkan ke dalam definisi (misalnya: benda panjang berujung runcing yang merupakan pasangan dari busur), bukan digambarkan dlm imajinasi (“”), bukan dibaca sebagai “PANAH”, atau bukan pula dieja per huruf (P-A-N-A-H).
Tetapi features atau komponen dari masing-masing huruf dideteksi dan dianalisis. Misalnya, huruf A dari “PANAH” dipecah ke dalam gua garis diagonal ( / \ ) dan satu garis horizontal ( ), atau sudut runcing ( /\ ) atau dasar yang terbuka ( / \ ), dan seterusnya.

Persepsi Pola Dan Gerakan Mata
Pendekatan langsung yang dilakukan terhadap feature analysis adalah observasi terhadap gerakan dan fiksasi mata. Riset mengenai hal ini mengasumsikan bahwa bila kita menatap pada tampang (feature ) tertentu pada pola dengan waktu yang lama, berarti kita sedang menyarikan atau memeras informasi yang lebih banyak daripada tampang (feature ) yang hanya dipandang sekilas. Riset semacam ini telah dilakukan oleh Mackwoth (1965,1970) dan Yarbus (1967).
�� P R O T O T Y P E M A T C H I N G
Pendekatan ini merupakan alternative dari template matching dan feature analysis. Pandangan ini beranggapan bahwa pembentukan prototype adalah lebih mungkin daripada membentuk template khusus atau sejumlah feature dari pola yang berbeda-beda, yang diaktifkan pada waktu merekognisi.
Adanya prototype memungkinkan kita untuk mengenali suatu pola meskipun pola tersebut mungkin tidak identik dengan prototype dan hanya serupa (similar).
Proses Prototype matching :
Beberapa jenis abstraksi disimpan didalam long term memory (LTM) dan abstraksi tersebut berperan sebagai bentuk dasar (prototype) . Suatu pola yang diamati akan dicek dengan prototype yang ada, dan jika ditemukan keseuaian, pola tersebut akan dikenali.
Contoh : Kita dapat mengenali mobil VW meskipun memiliki bentuk dan warna yang berbeda
dengan yang kita lihat.
Prototype bukan sekedar abstraksi terhadap satu set stimuli, tetapi juga merupakan contoh atau representasi yang terbaik dari suatu pola.

Rabu, 06 Juli 2011

Tahap Perkembangan Kemampuan Bicara dan Berbahasa



  Kategori Anak
  Oleh : Jacinta F. Rini (dalam http://www.e-psikologi.com/epsi/olahraga.asp)
  Jakarta, 04 September 2001
  
Berikut ini akan disajikan informasi seputar tahapan perkembangan bahasa dan bicara seorang anak. Namun perlu diperhatikan, bahwa batasan-batasan yang tertera juga bukan merupakan batasan yang kaku mengingat keunikan setiap anak berbeda satu dengan yang lain. Menurut Dr. Miriam Stoppard (1995) tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa dapat dibagi sebagai berikut:

0 - 8 Minggu
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada masa awal, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya. Sebenarnya tidak hanya itu, sejak lahir ia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu. Meskipun masih bayi, seorang anak akan mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respon lewat gerak tubuh dan suara. Sejak dua minggu pertama, ia sudah mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respon terhadap suara yang dikenalinya.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  1. Semakin dini orang tua menstimulasi anaknya dengan cara mengajaknya bercakap-cakap dan menunjukkan sikap yang mendorong munculnya respon dari si anak, maka sang anak akan semakin dini pula tertarik untuk belajar bicara. Tidak hanya itu, kualitas percakapan dan bicaranya juga akan lebih baik. Jadi, teruslah mengajak anak Anda bercakap-cakap sejak hari pertama kelahirannya.
  2. Jalinlah komunikasi dengan dihiasi oleh senyum Anda, pelukan, dan perhatian. Dengan demikian anak Anda akan termotivasi untuk berusaha memberikan responnya.
  3. Tunjukkanlah selalu kasih sayang melalui peluk-cium, dan kehangatan yang bisa dirasakan melalui intonasi suara Anda. Dengan demikian, Anda menstimulasi terjalinnya ikatan emosional yang erat antara Anda dengan anak Anda sekaligus membesarkan hatinya.
  4. Selama menjalin komunikasi dengan anak Anda, jangan lupa untuk melakukan kontak mata secara intensif karena dari pandangan mata tersebutlah anak bisa merasakan perhatian, kasih sayang, cinta, dan pengertian. Jika sedang bicara, tataplah matanya dan jangan malah membelakangi dia.
  5. Jika anak Anda menangis, jangan didiamkan saja. Selama ini banyak bereda pandangan keliru, bahwa jika bayi menangis sebaiknya didiamkan saja supaya nantinya tidak manja dan bau tangan. Padahal, satu-satunya cara seorang bayi baru lahir untuk mengkomunikasikan keinginan dan kebutuhannya (haus, lapar, kedinginan, kepanasan, kebutuhan emosional, kelelahan, kebosanan) dia adalah melalui tangisan. Jadi, jika tangisannya tidak Anda pedulikan, lama-lama dia akan frustasi karena kebutuhannya terabaikan. Yang harusnya Anda lakukan adalah memberinya perlakuan seperti yang dibutuhkannya saat ia menangis. Untuk itu, kita sebagai orang tua haruslah belajar memahami dan mengerti bahasa isyaratnya. Tidak ada salahnya, jika Anda seakan-akan bertanya padanya, seperti: "rupanya ada sesuatu yang kamu inginkan,....coba biar Ibu lihat..."

8 - 24 Minggu
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti 'eh', 'ah', 'uh', 'oh' dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti 'm', 'p', 'b', 'j' dan 'k'. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan "tunggal" dengan menyuarakan 'gaga', 'ah goo', dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan bublling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan 'ma', 'ka', 'da' dan sejenisnya. Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orang tuanya atau orang lain katakan. Lucunya, anak-anak itu akan bermain dengan suaranya sendiri dan terus mengulang apa yang didengar dari suaranya sendiri.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  1. Untuk bisa berbicara, seorang anak perlu latihan mekanisme berbicara melalui latihan gerakan mulut, lidah, bibir. Sebenarnya, aktivitas menghisap, menjilat, menyemburkan gelembung dan mengunyah merupakan kemampuan yang diperlukan. Oleh sebab itu, latihlah anak Anda baik dengan permainan maupun dengan makanan.
  2. Sering-seringlah menyanyikan lagu untuk anak Anda dengan lagu-lagu anak-anak yang sederhana dan lucu, secara berulang dengan penekanan pada ritme dan pengucapannya. Bernyanyilah dengan diselingi permainan-permainan yang bernada serta menarik. Jadi, luangkan lah waktu Anda untuk terlibat dalam kegiatan menarik seperti itu agar kemampuan bicara dan berbahasa anak Anda lebih berkembang.
  3. Salah satu cara seorang anak berkomunikasi di usia ini adalah melalui tertawa. Oleh sebab itu, sering-seringlah bercanda dengannya, tertawa, membuat suara-suara dan ekspresi lucu agar kemampuan komunikasi dan interaksinya meningkat dan mendorong tumbuhnya kemampuan bahasa dan bicara.
  4. Setiap bayi yang baru lahir, mereka akan belajar melalui pembiasaan atau pun pengulangan suatu pola, kegiatan, nama atau peristiwa. Melalui mekanisme ini Anda mulai bisa mengenalkan kata-kata yang bermakna pada anak pada saat melakukan aktivitas rutin, seperti : pada waktu mau makan, Anda bisa katakan "nyam-nyam"

28 Minggu - 1 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Usia 28 minggu seorang anak mulai bisa mengucapkan 'ba', 'da', 'ka' secara jelas sekali. Bahkan waktu menangis pun vokal suaranya sangat lantang dan dengan penuh intonasi. Pada usia 32 minggu, ia akan mampu mengulang beberapa suku kata yang sebelumnya sudah mampu diucapkannya. Pada usia 48 minggu, seorang anak mulai mampu sedikit demi sedikit mengucapkan sepatah kata yang sarat dengan arti. Selain itu, ia mulai mengerti kata "tidak" dan mengikuti instruksi sederhana seperti 'bye-bye' atau main 'ciluk-baa'. Ia juga mulai bisa meniru bunyi binatang seperti 'guk', 'kuk', 'ck'..

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  1. Jadilah model yang baik untuk anak Anda terutama pada masa ini lah mereka mulai belajar meniru kata-kata yang didengarnya dan mengucapkannya kembali. Ucapkan kata-kata dan kalimat Anda secara perlahan, jelas dengan disertai tindakan (agar anak tahu artinya atau korelasinya antara kata yang Anda ucapkan dengan tindakan kongkritnya), dan jangan lupa, bahasa tubuh dan ekspresi wajah Anda juga harus pas.
  2. Anak Anda akan belajar bicara dengan bahasa yang tidak jelas bagi Anda. Jadi, ini lah waktunya untuk Anda berdua (Anda dengan anak) saling belajar untuk bisa saling memahami keinginan dan maksud berdua. Jadikanlah kegiatan ini sebagai salah satu bentuk permainan yang menyenangkan agar anak Anda tidak patah semangat untuk terus mencoba mengucapkan secara pas dan jelas. Namun, jika Anda malas memperhatikan "suaranya", apa yang dimaksudnya, dan tidak mengulangi suaranya, atau bahkan ekspresi wajah Anda membuat dirinya jadi enggan mencoba, maka anak Anda akan merasa bahwa "tidak memungkinkan baginya untuk mencoba mengekspresikan keinginan karena orang dewasa tidak akan ada yang mengerti dan mau mendengarkan".
  3. Kadang-kadang, ikutilah gumamannya, namun, Anda juga perlu mengucapkan kata secara benar. Jika suatu saat ia berhasil mengucapkan suatu suku kata atau kata dengan benar, berilah pujian yang disertai dengan pelukan, ciuman, tepuk tangan..dan sampaikan padanya, "betapa pandainya dia".
  4. Jika mengucapkan sebuah kata, sertailah dengan penjelasan artinya. Lakukan hal ini terus menerus meski tidak semua dimengertinya. Penjelasan bisa dilakukan misal dengan menunjukkan gambar, gerakan, sikap tubuh, atau pun ekspresi.

1 Tahun - 18 Bulan
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada usia setahun, seorang anak akan mampu mengucapkan dua atau tiga patah kata yang punya makna. Sebenarnya, ia juga sudah mampu memahami sebuah obyek sederhana yang diperlihatkan padanya. Pada usia 15 bulan, anak mulai bisa mengucapkan dan meniru kata yang sederhana dan sering didengarnya untuk kemudian mengekspresikannya pada porsi/ situasi yang tepat. Usia 18 bulan, ia sudah mampu menunjuk obyek-obyek yang dilihatnya di buku dan dijumpainya setiap hari. Selain itu ia juga mampu menghasilkan kurang lebih 10 kata yang bermakna.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  1. Semakin mengenalkan anak Anda dengan berbagai macam suara, bunyi, seperti misalnya suara mobil, motor, kucing, anjing, dsb. Kenalkan pula pada suara-suara yang sering didengarnya sehari-hari, seperti pintu terbuka-tertutup, suara air, suara angin berdesir di pepohonan, kertas dirobek, benda jatuh, dsb.
  2. Sering-seringlah membacakan buku-buku yang sangat sederhana namun sarat dengan cerita yang menarik untuk anak dan gambar serta warna yang "eye catching". Tunjukkan obyek-obyek yang terlihat di buku, sebutkan namanya, jelaskan apa yang sedang dilakukannya, bagaimana jalan ceritanya. Minta lah padanya untuk mengulang nama yang Anda sebutkan, dan jangan lupa, berilah pujian jika ia berhasil mengingat dan mengulang nama yang Anda sebutkan.
  3. Jika sedang bersamanya, sebutkan nama-nama benda, warna dan bentuk pada setiap obyek yang dilihatnya.
  4. Anda mulai bisa mengenalkan dengan angka dengan kegiatan seperti menghitung benda-benda sederhana yang sedang dibuat permainan. Lakukan itu dalam suasana yang santai dan nyaman agar anak tidak merasa ada tekanan keharusan untuk menguasai kemampuan itu.

18 Bulan - 2 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Pada rentang usia ini, kemampuan bicara anak semakin tinggi dan kompleks. Perbendaharaan katanya pun bisa mencapai 30 kata dan mulai sering mengutarakan pertanyaan sederhana, seperti 'mana ?', 'dimana?' dan memberikan jawaban singkat, seperti 'tidak', 'disana', 'disitu', 'mau'. Pada usia ini mereka juga mulai menggunakan kata-kata yang menunjukkan kepemilikan, seperti 'punya ani', 'punyaku'. Bagaimana pun juga, sebuah percakapan melibatkan komunikasi dua belah pihak, sehingga anak juga akan belajar merespon setelah mendapatkan stimulus. Semakin hari ia semakin luwes dalam menggunakan kata-kata dan bahasa sesuai dengan situasi yang sedang dihadapinya dan mengutarakan kebutuhannya. Namun perlu diingat, oleh karena perkembangan koordinasi motoriknya juga belum terlalu sempurna, maka kata-kata yang diucapkannya masih sering kabur, misalnya 'balon' jadi 'aon', 'roti' jadi 'oti'.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  1. Mulailah mengenalkan anak Anda pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas. Seperti "baik, indah, cantik, dingin, banyak, sedikit, asin, manis, nakal, jelek", dsb. Caranya, pada saat Anda mengucapkan suatu kata tertentu, sertailah dengan kualitas tersebut, misalnya "anak baik, anak manis, anak pintar, baju bagus, boneka cantik, anak nakal, roti manis", dsb.
  2. Mulailah mengenalkan padanya kata-kata yang menerangkan keadaan atau peristiwa yang terjadi: sekarang, besok, di sini, di sana, kemarin, nanti, segera, dsb.
  3. Anda juga bisa mengenalkannya kata-kata yang menunjukkan tempat: di atas, di bawah, di samping, di tengah, di kiri, di kanan, di belakang, di pinggir; Anda bisa melakukannya dengan menggunakan contoh gerakan. Banyak model permainan yang dapat Anda gunakan untuk menerangkan kata-kata tersebut, bahkan dengan permainan, akan jauh lebih menyenangkan baginya dan bagi Anda.
  4. Yang perlu Anda ingat, janganlah menyetarakan perkembangan anak Anda dengan anak-anak lainnya karena tiap anak mempunyai dan mengalami hambatan yang berbeda-beda. Jadi, jika anak Anda kurang lancar dan fasih berbicara, janganlah kemudian menekannya untuk lekas-lekas mengoptimalkan kemampuannya. Keadaan ini hanya akan membuatnya stress.

2 Tahun - 3 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Seorang anak mulai menguasai 200 - 300 kata dan senang bicara sendiri (monolog). Sekali waktu ia akan memperhatikan kata-kata yang baru didengarnya untuk dipelajari secara diam-diam. Mereka mulai mendengarkan pesan-pesan yang penuh makna, yang memerlukan perhatian dengan penuh minat dan perhatian. Perhatian mereka juga semakin luas dan semakin bervariasi. Mereka juga semakin lancar dalam bercakap-cakap, meski pengucapannya juga belum sempurna. Anak seusia ini juga semakin tertarik mendengarkan cerita yang lebih panjang dan kompleks. Jika diajak bercakap-cakap, mudah bagi mereka untuk loncat dari satu topik pembicaraan ke yang lainnya. Selain itu, mereka sudah mampu menggunakan kata sambung "sama", misalnya "ani pergi ke pasar sama ibu", untuk menggambarkan dan menyambung dua situasi yang berbeda. Pada usia ini mereka juga bisa menggunakan kata "aku", "saya", "kamu" dengan baik dan benar. Dengan banyaknya kata-kata yang mereka pahami, mereka semakin mengerti perbedaan antara yang terjadi di masa lalu, masa kini dan masa sekarang.

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  1. Pada usia ini, anak Anda akan lebih senang bercakap-cakap dengan anak-anak seusianya dari pada dengan orang dewasa. Oleh sebab itu, akan baik jika ia banyak dikenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya. Salah satu tujuan para orang tua memasukkan anaknya dalam nursery school adalah karena alasan tersebut, agar anaknya bisa mengembangkan kemampuan komunikasi sekaligus sosialisasi. Meskipun demikian, bahasa dan kata-kata yang diucapkan masih bersifat egosentris, namun lama kelamaan akan lebih bersifat sosial seiring dengan perkembangan usia dan keluasan jaringan sosialnya.
  2. Sering-seringlah menceritakan cerita menarik pada anak Anda, karena sebenarnya cerita juga merupakan media atau sarana untuk mengekspresikan emosi, menamakan emosi yang disimpannya dalam hati, dan belajar berempati. Dari kegiatan ini pula lah anak Anda tidak hanya belajar berani mengekspresikan diri secara verbal tapi juga belajar perilaku sosial.
  3. Ceritakan padanya cerita yang lebih kompleks dan kenalkan beberapa kata-kata baru sambil menerangkan artinya. Lakukan ini secara terus menerus agar ia dapat mengingatnya dan mengenalinya dengan mudah ketika Anda mengulang cerita itu kembali di lain waktu.

3 - 4 Tahun
Perkembangan Kemampuan Berbicara dan Bahasa
Anak mulai mampu menggunakan kata-kata yang bersifat perintah; hal ini juga menunjukkan adanya rasa percaya diri yang kuat dalam menggunakan kata-kata dan menguasai keadaan. Mereka senang sekali mengenali kata-kata baru dan terus berlatih untuk menguasainya. Mereka menyadari, bahwa dengan kata-kata mereka bisa mengendalikan situasi seperti yang diinginkannya, bisa mempengaruhi orang lain, bisa mengajak teman-temannya atau ibunya. Mereka juga mulai mengenali konsep-konsep tentang kemungkinan, kesempatan, dengan "andaikan", "mungkin", "misalnya", "kalau". Perbendaharaan katanya makin banyak dan bervariasi seiring dengan peningkatan penggunaan kalimat yang utuh. Anak-anak itu juga makin sering bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuan mereka, seperti "kenapa dia Ma?", "sedang apa dia Ma?", "mau ke mana?"

Tindakan yang Dapat Dilakukan Orangtua
  1. Hindari sikap mengkoreksi kesalahan pengucapan kata anak secara langsung, karena itu akan membuatnya malu dan malah bisa mematahkan semangatnya untuk belajar dan berusaha. Anda bisa mengulangi kata-kata tersebut secara jelas seolah Anda mengkonfirmasi apa yang dimaksudkannya. Dengan demikian, ia akan memahami kesalahannya tanpa merasa harus malu.
  2. Pada usia ini, seorang anak sudah mulai bisa mengerti penjelasan sederhana. Oleh sebab itu, Anda bisa mulai mencoba untuk mengajaknya mendiskusikan soal-soal yang sangat sederhana; dan tanyakan apa pendapatnya tentang persoalan itu. Dengan cara itu, Anda melatih cara dan proses penyelesaian masalah pada anak Anda setahap demi setahap. Hasil dari tukar pendapat itu sebenarnya juga mempertinggi self-esteem anak karena ia merasa pendapatnya didengarkan oleh orang dewasa.
  3. Mulailah mengeluarkan kalimat yang panjang dan kompleks, agar ia mulai belajar meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat. Untuk mengetahui apakah ia memahami atau tidak, Anda bisa melihat respon dan reaksinya; jika ia melakukan apa yang Anda inginkan, dapat diartikan ia cukup mengerti kalimat Anda.
  4. Anak-anak sangat menyukai kegiatan berbisik karena hal itu permainan mengasikkan buat mereka sebagai salah satu cara mengekspresikan perasaan, dan keingintahuan.
  5. Pakailah cerita-cerita dongeng dan fabel yang sebenarnya mencerminkan dunia anak kita dan memakainya sebagai suatu cara untuk mengajarkan banyak hal tanpa menyinggung perasaannya. Dengan mendongeng, Anda mengenalkan padanya konsep-konsep tentang moralitas, nilai-nilai, sikap yang baik dan jahat, keadilan, kebajikan dan pesan-pesan moral lainnya. Jadikanlah saat-saat bersama anak Anda sebagai masa yang menyenangkan, ceria, santai dan segar. Buatlah ini menjadi kebiasaan di waktu-waktu tertentu, seperti sebelum tidur atau di waktu sore hari.

Saran buat ayah dan ibu

Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya tumbuh sehat dan berkembang secara optimal sesuai tahap perkembangan yang wajar (bahkan banyak pula yang inginnya lebih). Untuk itu, beberapa saran untuk menyiapkan kondisi yang positif dan konstruktif bagi anak :
  1. Asupan gizi dan nutrisi yang baik diperlukan anak mulai dari masa prenatal hingga post natal, supaya organ bicara dan otak sebagai pusat pengolahan data dan informasi bisa berfungsi secara optimal
  2. Screening virus. Calon ibu biasanya disarankan untuk melakukan uji TORCH (Toksoplasma, Rubella, Citomegalo dan Herpes), guna menghindari adanya virus-virus tersebut yang berbahaya bagi perkembangan janin (termasuk proses pembentukan jaringan organ panca indera). Berkonsultasilah dengan dokter ahli supaya mendapatkan gambaran dan treatment yang sesuai.
  3. Tidak ada anak yang sama persis di dunia ini, sehingga hindarkan sikap membanding-bandingkan anak.
  4. Berkomunikasi secara intensif, kontak mata, bercerita, berdialog, bekerja sama dengan anak, meski anak belum bisa merespon secara kompleks. Emosi yang di transfer sudah menjadi bahasa tersendiri yang ditangkap oleh otak anak sehingga anak mengerti apa yang dikehendaki orangtua.
  5. Gunakan media yang bervariasi untuk mengembangkan kemampuan bahasa dan bicara anak, sesuai dengan karakter anak. Anak yang masih resah dan sulit memfokuskan perhatian jangan di paksa untuk membaca buku seperti anak yang tidak punya problem konsentrasi. Gunakan media lain, seperti alam dan permainan untuk mengembangkan kemampuan bahasanya.
  6. Waspada terhadap ambisi diri yang bisa menyebabkan problem emosional pada anak. Saking inginnya anak pintar berbicara dan berbahasa, orang tua memaksakan dengan cara yang keras dan tidak tepat apalagi dengan ancaman, hingga anak malah tertekan, takut, bingung, marah dan kesal.

Semoga  bermanfaat untuk pembaca semua dan silahkan dishare..

Komunikasi Efektif dalam Tim Olah Raga



Oleh : RR. Ardiningtiyas Pitaloka, M.Psi. (http://www.e-psikologi.com/epsi/olahraga.asp)
Jakarta, 07 Agustus 2007
Saya kerap dituduh tidak patriot apalagi nasionalis oleh teman saya. Pasalnya saya paling ogah menonton liga sepakbola Indonesia, atau ketika tim nasional sedang berlaga melawan tim asing. Sementara saya rela berpusing-ria meneliti patriotisme demi penulisan tesis. Sebenarnya saya frustrasi total dengan sepak bola Indonesia, karenanya saya yang biasanya mengawang-awang menjadi sangat membumi untuk satu hal ini.

Saya bukan ahli olah raga, tetapi tetap saja pertanyaan 'mengapa' kerap menjejali kepala ini. Banyak sekali alasan yang mengemuka ketika berbicara tentang atlet atau prestasi Indonesia dalam olah raga. Bahkan untuk permainan yang termasuk merakyat yaitu sepak bola, kita belum juga mampu memancing senyum. Kabar burung mengatakan bahwa Indonesia termasuk negara langka yang dimanjakan dengan tayangan sepakbola dari negeri-negeri sepakbola papan atas. Mulai dari Premier League, La Liga, Bundesliga, Lega Calcio, belum lagi ajang bergengsi seperti Champion League, Piala FA, Euro Cup hingga World Cup. Hampir dipastikan anak-anak SD lebih fasih dan tidak asing dengan profil Samuel Eto’o, Ronaldinho, David Beckham, Luis Saha, dan banyak lagi pemain bintang dunia, ketimbang pemain di timnas kita.

Terlalu jauh jika membandingkan dengan liga-liga di atas, tetapi, bukankah Brazil, Argentina, Nigeria, bukan negara sekaya Inggris, Spanyol atau Italia? Mengapa bisa melahirkan pemain-pemain berkelas dunia, mengapa timnas mereka berada di puncak tangga dunia, setidaknya menjadi kuda hitam di ajang sepakbola internasional? Kemudian kepungan tayangan liga dunia di berbagai televisi, tidakkah memberikan sesuatu? Mengapa dalam highlight liga kita masih juga menampilkan  adegan baku hantam antara wasit, pemain, ofisial bahkan pendukung pun turut serta baku hantam.

Prestasi olah raga nasional kita memang tidak sedang gemilang, setidaknya dulu kita bisa berbangga menyebut sederet nama di cabang bulu tangkis. Susi Susanti, Mia Audina, Ardi B. Wiranata, atau Yayuk Basuki di cabang tenis. Kembali ke cabang sepakbola yang mengutamakan kerjasama tim, serta keterkaitannya dalam isu komunikasi, apakah komunikasi yang terbangun dalam timnas kita tidak efektif? Sehingga seringkali bola disodorkan begitu saja pada pihak lawan? Saya menemukan jurnal menarik tentang efektivitas komunikasi dalam sebuah tim olah raga.

Komunikasi Efektif Tim Olah raga

Dalam beberapa waktu, konsep ini belum mendapat tempat yang pasti dalam psikologi olah raga. Hal ini dikarenakan kurangnya dasar teori dan pengukuran yang tidak berimbang sehingga menjadikan konstruk tersebut dipahami secara salah dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Sullivan & Feltz (2003) mengembangkan skala komunikasi efektif dalam tim olah raga dengan melibatkan 681 atlet dalam serangkaian studi.

Sebelumnya mereka mengemukakan bahwa lingkungan olah raga adalah lingkungan yang kaya, unik dan mengandung konteks yang penting untuk mempelajari kondisi alami dan mendasar dari suatu dinamika sosial. Lingkungan ini tidak lepas dari isu semacam kepemimpinan, efikasi kolektif, kohesi tim, juga pencanangan target kelompok.

Menggunakan Independent exploratory factor analysis (EFA) dan subsequent confirmatory factor analysis (CFA), Sullivan & Feltz menemukan empat faktor dalam komunikasi efektif tim olah raga, yakni  distinctiveness, acceptance, positive conflict dan negative conflict;  
1. Acceptance is defined as the communication of consideration and appreciation between teammates. Aspek penerimaan ini melebihi faktor yang diunggulkan yaitu Suport. Hal menarik lainnya, faktor yang tereliminasi dalam Support adalah faktor yang merujuk pada perilaku non verbal. Dalam hal ini, penerimaan meruapakan bentuk komunikasi yang bersumber lebih pada bentuk verbal.

2. Distinctiveness is defined as the communication of a shared, but unique identity. Keunikan dalam komunikasi ini salah satunya dapat berupa nama panggilan yang unik antar anggota tim. Nama panggilan tidak melulu pada julukan, tetapi bisa juga nama kecil, yang secara tidak langsung menunjukkan keakraban yang terjalin. Faktor ini juga bisa dipenuhi dalam pertukaran non verbal seperti sikap dan perilaku antar anggota tim.

3. Positive conflict is defined as communication regarding intra-team conflict that expresses constructive and interactive ways of dealing with disruption. Perselisihan sudah jamak terjadi dalam setiap interaksi manusia, namun ekspresi yang konstruktif dan interaktif lah yang pada akhirnya diperlukan, begitu pula dalam sebuah tim olah raga.

4. Negative conflict. Berlawanan dengan konflik positif, konflik negatif lebih mengacu pada konflik intra tim yang mengedepandak emosi, personal dan konfrontasi.

Studi di atas memang tidak melibatkan komponen lain seperti pelatih atau manajemen. Studi tersebut lebih mengungkap komunikasi di antara anggota tim. Pada sisi lain, di antara sekian faktor yang dihasilkan oleh komunitas efektif, kohesivitas menempati rangking utama di atas penampilan tim dan kepuasan. Mengapa kohesivitas? Berikut alasan yang mengikutinya;
1.         Kohesivitas adalah atribut tim yang terbangun dengan begitu baik melebihi faktor penampilan yang ditunjukkan.
2.         Pengukuran kohesivitas lebih bisa diaplikasikan ketimbang penampilan tim yang justru sering menimbulkan keingungan, baik dalam pelatihan dan interaksi tim itu sendiri.
3.         Lebih lanjut, kohesivitas dapat digeneralisir ke dalam interaksi di luar tim olah raga.
Alasan ini yang menjadikan kohesivitas sebagai penyangga utama bagi efektivitas komunikasi efektif. Meski masih dibutuhkan studi lebih lanjut antara kohesivitas dan penampilan tim.

Kohesivitas & Penampilan Tim

Buah dari komunikasi efektif berdasarkan studi Sullivan & Feltz mungkin menimbulkan tanda tanya bagi kita. Meski tidak kaku, namun kohesivitas tetap diunggulkan daripada  penampilan sebuah tim. Melihat penjelasan yang dikemukakan, mungkin gambaran ini bisa melengkapi studi itu. Komunikasi yang efektif antar anggota kelompok mengantarkan ikatan kuat sebuah tim, kohesivitas. Sementara, hal itu tidak berarti penampilan tim akan memuncak.

Mungkin, hal ini dikarenakan penampilan suatu tim tidak bisa dilepaskan dari interaksi antara anggota tim dengan pelatih bahkan jajaran ofisial. Sementara studi tersebut hanya menggali pada tataran anggota tim. Tim yang kohesif adalah tim yang individu-individu di dalamnya memiliki keterikatan kuat. Karenanya ada penerimaan di sana, ada keunikan/ keakraban serta konflik positif dalam dinamika timnya. Inilah hasil yang dapat dipetik dari komunikasi tim yang berjalan efektif. Mereka memiliki pemahaman dan kedekatan personal. Namun, jika berbicara tentang penampilan tim, komunikasi yang terbangun tidak hanya melibatkan antar anggota tim. Mungkin Beckham memiliki komunikasi efektif dengan rekan-rekan di Real Madrid, sehingga ia memiliki kedekatan dengan tim tersebut. Namun hengkangnya pemilik tendangan pisang ini ke Galaxy, USA, lebih pada kekecewaan terhadap kepemimpinan Fabio Capello yang sering menempatkannya di bangku cadangan. Pers juga menduga sebagai kekecewaan tidak dipanggilnya mantan kapten timnas Inggris ini jajaran di timnas Inggris sekarang. Maka, komunikasi yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah komunikasi antara pemain dengan pelatih, pemain dengan manajemen tim.

Bagaimana dengan timnas kita?
Saya curiga, apakah justru tim kita terlalu dekat sehingga wasit pun akan dilawan ketika memberi kartu merah pada rekan satu tim. Bukankah di liga luar sana, keputusan wasit sekontroversial apapun sangat jarang mengakibatkan wasit tersebut terluka karena dikejar-kejar pemain yang marah? Pemain menyerahkan hal itu pada otoritas yang lebih tinggi, federasi. Bukan hal aneh jika keputusan wasit kemudian berubah karena terbukti tidak benar. Silahkan kecurigaan ini diolah dalam bingkai ilmiah, sehingga menjadi sumbangan bagi kemajuan olah raga di negeri ini.

Scale for Effective Communication in Team Sports (SECTS) dari Sullivan & Feltz ini mampu menjadi landasan teoretis dan pengukuran data efektivitas komunikasi tim dalam dunia olah raga. Satu sumbangan berarti dari dunia psikologi untuk dunia olah raga. Semoga bermanfaat.
 
Sumber:
Sullivan, Philip & Feltz, Deborah L. (2003) The preliminary development of the scale for effetive communication in team sports (SECTS). Journal of Applied Social Psychology,2003,33,8,pp.1693-1715
Belajar Psikologi with Yusack Coca Cocaina

5 Popular Post